Artikel Terbaru
Tampilkan postingan dengan label Waliyullah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Waliyullah. Tampilkan semua postingan
03.08

Manaqib Al Imam Habib Abdullah bin Alwi Al Haddad
Written By Pecinta Rasulullah on Selasa, 31 Juli 2012 | 03.08

Sekilas Biografi Al-Imam Abdullah Al-Hadad (Shohibur Ratib)
Imam Al-Allamah Al-Habib Abdullah bin Alwy Al-Hadad, lahir hari Rabu, Malam Kamis tanggal 5 Bulan Syafar 1044 H di Desa Sabir di Kota Tarim, wilayah Hadhromaut, Negeri Yaman.
Nasab
Beliau adalah seorang Imam Al-Allamah Al-Habib Abdullah bin Alwy Al-Hadad bin Muhammad bin Ahmad bin Abdullah bin Muhammad bin Alwy bin Ahmad bin Abu Bakar Al–Thowil bin Ahmad bin Muhammad bin Abdullah bin Ahmad Al-Faqih bin Abdurrohman bin Alwy bin Muhammad Shôhib Mirbath bin Ali Khôli’ Qosam bin Alwi bin Muhammad Shôhib Shouma’ah bin Alwi bin Ubaidillah bin Al-Muhâjir Ilallôh Ahmad bin Isa bin Muhammad An-Naqîb bin Ali Al-Uraidhi bin Imam Jakfar Ash-Shodiq bin Muhammad Al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Imam As-Sibth Al-Husein bin Al-Imam Amirul Mukminin Ali bin Abi Tholib suami Az-Zahro Fathimah Al-Batul binti Rosulullah Muhammad SAW.
Label:
Biografi Habaib,
Waliyullah
14.35
Al Habib Ali bin Muhammad Al Habsyi (Simthud duror)
Written By Pecinta Rasulullah on Selasa, 24 Juli 2012 | 14.35
Ibu
kandungku adalah seorang sayyidah shalihah, arifah billah, dan da’iyah
ilallah, Alawiyah binti Husein bin Ahmad Al-Hadi Al-Jufri. Beliau
berasal dari kota Syibam. Sementara ayahku adalah seorang yang gemar
berdakwah di kalangan pria maupun wanita.
Ketika
mendengar ihwal ibuku, ayahku ingin memperistri dan membawanya ke kota
kediamannya. Saat itu beliau masih tinggal di Taribah. la kemudian
meminta tolong dua orang Arif billah, Umar bin Muhammad Bin Smith dan
Ahmad bin Umar bin Zain Bin Smith untuk meminang ibuku.
Kedua
sayyid itu lalu menemui kakekku, yang shalih, Husein bin Ahmad Al-Hadi
Al-Jufri. Keduanya menceritakan maksud kedatangan mereka dan menjelaskan
bahwa ayahku adalah seorang ahli dakwah. Mereka berdua menganjurkan
agar beliau menerima lamaran ayahku.
Kakekku lalu menerima lamaran ayahku. Beliau sama sekali tidak menanyakan keadaan keuangan ayahku.
Label:
Biografi Habaib,
Waliyullah
13.06
Nama asli Abu Nawas adalah Abu Ali al-Hasan bin Hani al-Hakami. Dia dilahirkan pada 145 H (747 M ) di kota Ahvaz di negeri Persia (Iran sekarang), dengan darah dari ayah Arab dan ibu Persia mengalir di tubuhnya. Abu Nawas merupakan seorang pujangga Arab dan dianggap sebagai salah satu penyair terbesar sastra Arab klasik. Abu Nawas juga muncul beberapa kali dalam kisah Seribu Satu Malam. Ayahnya, Hani al-Hakam, merupakan anggota legiun militer Marwan II. Sementara ibunya bernama Jalban, wanita Persia yang bekerja sebagai pencuci kain wol. Sejak kecil ia sudah yatim. Sang ibu kemudian membawanya ke Bashrah, Irak. Di kota inilah Abu Nawas belajar berbagai ilmu pengetahuan.
Abu Nawas (Abu Al-Hasan bin Hani Al-Hakami)
Written By Pecinta Rasulullah on Selasa, 10 Juli 2012 | 13.06
Nama asli Abu Nawas adalah Abu Ali al-Hasan bin Hani al-Hakami. Dia dilahirkan pada 145 H (747 M ) di kota Ahvaz di negeri Persia (Iran sekarang), dengan darah dari ayah Arab dan ibu Persia mengalir di tubuhnya. Abu Nawas merupakan seorang pujangga Arab dan dianggap sebagai salah satu penyair terbesar sastra Arab klasik. Abu Nawas juga muncul beberapa kali dalam kisah Seribu Satu Malam. Ayahnya, Hani al-Hakam, merupakan anggota legiun militer Marwan II. Sementara ibunya bernama Jalban, wanita Persia yang bekerja sebagai pencuci kain wol. Sejak kecil ia sudah yatim. Sang ibu kemudian membawanya ke Bashrah, Irak. Di kota inilah Abu Nawas belajar berbagai ilmu pengetahuan.
Masa mudanya penuh perilaku kontroversial yang membuat Abu Nawas tampil sebagai tokoh yang unik dalam khazanah sastra Arab Islam. Meski begitu, sajak-sajaknya juga sarat dengan nilai sprirtual, di samping cita rasa kemanusiaan dan keadilan. Abu Nawas belajar sastra Arab kepada Abu Zaid al-Anshari dan Abu Ubaidah. Ia juga belajar Al-Quran kepada Ya'qub al-Hadrami. Sementara dalam Ilmu Hadis, ia belajar kepada Abu Walid bin Ziyad, Muktamir bin Sulaiman, Yahya bin Said al-Qattan, dan Azhar bin Sa'ad as-Samman.
Label:
Biografi Ulama,
Waliyullah
06.59

Rabi'ah Adawiyah ( Sang Penyair Cinta)
Written By Pecinta Rasulullah on Minggu, 08 Juli 2012 | 06.59

Tuhanku, tenggelamkan aku dalam samudera cintaMu….
A. Biografi Rabi’ah Al Adawiyah
Rabi’ah Al Adawiyah memiliki nama asli Rabi’ah Al Adawiyah binti Ismail al Adawiyah al Bashriyah. Ia diberi nama oleh orang tuanya Rabi’ah karena merupakan anak ke empat dari empat bersaudara. Dalam bahasa Arab rabi’ah artinya ke empat. Rabi’ah lahir di kota Basrah tahun 94 H dan meninggal sekitar tahun 185 H serta dimakamkan di tempat itu juga.
.
Rabi’ah binti Ismail al-Adawiyah tergolong wanita sufi yang terkenal dalam sejarah Islam. Dia lahir dalam sebuah keluarga yang miskin dari segi kebendaan namun kaya dengan peribadatan kepada Allah. Ayahnya hanya bekerja mengangkut penumpang menyeberangi Sungai Dijlah dengan menggunakan sampan.
Label:
Kisah Hikayat,
Waliyullah
06.38
“Sesungguhnya aku merasakan nafas ar-Rahman, nafas dari Yang Maha Pengasih, mengalir kepadaku dari Yaman!” Demikian sabda Nabi SAW tentang diri Uwais, yang kemudian dalam tradisi tasawuf menjadi contoh bagi mereka yang memasuki tasawuf tanpa dituntun oleh sang guru yang hidup.
Para sufi yang mengaku dirinya telah menempuh jalan tanpa pembai’atan formal kemudian disebut dengan istilah Uwaisi. Mereka ini dibimbing langsung oleh Allah di jalan tasawuf, atau telah ditasbihkan oleh wali nabi yang misterius, Khidhir. Uwais yang bernama lengkap Uwais bin Amir al-Qarani berasal dari Qaran, sebuah desa terpencil . Tidak diketahui kapan beliau dilahirkan. Ia dilahirkan oleh keluarga yang taat beribadah. Ia tidak pernah mengenyam pendidikan kecuali dari kedua orang tuanya yang sangat ditaatinya.
Mengenal Uwais Al-Qarni (Terkenal di langit Tidak terkenal di Bumi)
“Sesungguhnya aku merasakan nafas ar-Rahman, nafas dari Yang Maha Pengasih, mengalir kepadaku dari Yaman!” Demikian sabda Nabi SAW tentang diri Uwais, yang kemudian dalam tradisi tasawuf menjadi contoh bagi mereka yang memasuki tasawuf tanpa dituntun oleh sang guru yang hidup.Para sufi yang mengaku dirinya telah menempuh jalan tanpa pembai’atan formal kemudian disebut dengan istilah Uwaisi. Mereka ini dibimbing langsung oleh Allah di jalan tasawuf, atau telah ditasbihkan oleh wali nabi yang misterius, Khidhir. Uwais yang bernama lengkap Uwais bin Amir al-Qarani berasal dari Qaran, sebuah desa terpencil . Tidak diketahui kapan beliau dilahirkan. Ia dilahirkan oleh keluarga yang taat beribadah. Ia tidak pernah mengenyam pendidikan kecuali dari kedua orang tuanya yang sangat ditaatinya.
Label:
Kisah Hikayat,
Waliyullah
22.39
Al Imam al Alim al Alamah al Arif Billah Muhadits al Musnid al
Mufasir Qutb al Haramain Syeikh Muhammad al Maliki al Hasni al Husaini
as Syadzili Mekah menyebutkan bahwa Syekh Ahmad Shohibul wafa Tajul
‘Arifin adalah Sulthonul Awliya fi hadza zaman bahkan beliaupun
menyebutkan Qoddasallahu Sirrohu bukan Rodliyallohu ‘anhu seperti yang
kebanyakan disebutkan oleh para ikhwan. Walaupun secara dhohir Syekh
Muhammad Alawy Al-Maliki belum bertemu dengan pangersa Abah namun
keduanya telah mengenal di alam ruhani yang tak dibatasi ruang dan
waktu.
Para Wali Allah Saling Mengenal di Alam Ruhani
Written By Pecinta Rasulullah on Jumat, 06 Juli 2012 | 22.39
Al Imam al Alim al Alamah al Arif Billah Muhadits al Musnid al
Mufasir Qutb al Haramain Syeikh Muhammad al Maliki al Hasni al Husaini
as Syadzili Mekah menyebutkan bahwa Syekh Ahmad Shohibul wafa Tajul
‘Arifin adalah Sulthonul Awliya fi hadza zaman bahkan beliaupun
menyebutkan Qoddasallahu Sirrohu bukan Rodliyallohu ‘anhu seperti yang
kebanyakan disebutkan oleh para ikhwan. Walaupun secara dhohir Syekh
Muhammad Alawy Al-Maliki belum bertemu dengan pangersa Abah namun
keduanya telah mengenal di alam ruhani yang tak dibatasi ruang dan
waktu.
Mereka yang memperjalankan diri kepada Allah Azza wa Jalla akan
saling mengenal di alam ruhani yang tak dibatasi ruang dan waktu.
Label:
Waliyullah
22.27
Mencoba Memahami Dunia para wali
Para Ulama Sufi membagi macam para Wali dengan berbagai versi,
termasuk derajat masing-masing di hadapan Allah Ta’ala. Dalam kitab
Al-Mafakhirul Aliyah fi al-Ma’atsir asy-Syadzilyah disebutkan ketika
membahas soal Wali Quthub. Syekh Syamsuddin bin Katilah Rahimahullaahu
Ta’ala menceritakan: “Saya sedang duduk di hadapan guruku, lalu
terlintas untuk menanyakan tentang Wali Quthub. “Apa makna Quthub itu
wahai tuanku?” Lalu beliau menjawab, “Quthub itu banyak. Setiap muqaddam
atau pemuka sufi bisa disebut sebagai Quthub-nya.
Sedangkan al-Quthubul Ghauts al-Fard al-Jami’ itu hanya satu. Artinya
bahwa Wali Nuqaba’ itu jumlahnya 300. Mereka itu telah lepas dari
rekadaya nafsu, dan mereka memiliki 10 amaliyah: empat amaliyah bersifat
lahiriyah, dan enam amaliyah bersifat bathiniyah. Empat amaliyah
lahiriyah itu antara lain:
Label:
Waliyullah
22.18
Syaikh Abu Hasan Ali Hujwiri dalam
kitabnya yang berjudul Kasyf Al-Mahjub, mengatakan bahwa wali Akhyar
sebanyak 300 orang, wali Abdal sebanyak 40 orang, wali Abrar sebanyak 7
orang, wali Autad sebanyak 4 orang, wali Nuqaba sebanyak 3 orang dan
wali Quthub atau Ghauts sebanyak 1 orang. Sedangkan menurut Syaikhul
Akbar Muhyiddin ibnu `Arabi dalam kitabnya al-Futuhat al-Makkiyyah
membuat pembagian tingkatan wali dan kedudukannya. Jumlah mereka sangat
banyak, ada yang terbatas dan yang tidak terbatas. Sedikitnya terdapat 9
tingkatan, secara garis besar dapat diringkas sebagai berikut:
Tingkatan dan Kedudukan Para Waliyullah
Syaikh Abu Hasan Ali Hujwiri dalam
kitabnya yang berjudul Kasyf Al-Mahjub, mengatakan bahwa wali Akhyar
sebanyak 300 orang, wali Abdal sebanyak 40 orang, wali Abrar sebanyak 7
orang, wali Autad sebanyak 4 orang, wali Nuqaba sebanyak 3 orang dan
wali Quthub atau Ghauts sebanyak 1 orang. Sedangkan menurut Syaikhul
Akbar Muhyiddin ibnu `Arabi dalam kitabnya al-Futuhat al-Makkiyyah
membuat pembagian tingkatan wali dan kedudukannya. Jumlah mereka sangat
banyak, ada yang terbatas dan yang tidak terbatas. Sedikitnya terdapat 9
tingkatan, secara garis besar dapat diringkas sebagai berikut:
1. Wali Quthub al-Aqthab atau Wali Quthub al-Ghauts
Wali yang sangat paripurna. Ia memimpin dan menguasai wali diseluruh alam semesta. Jumlahnya hanya seorang setiap masa. Jika wali ini wafat, maka Wali Quthub lainnya yang menggantikan.
Wali yang sangat paripurna. Ia memimpin dan menguasai wali diseluruh alam semesta. Jumlahnya hanya seorang setiap masa. Jika wali ini wafat, maka Wali Quthub lainnya yang menggantikan.
Label:
Waliyullah

Download this in PDF format




